Pesisir Pos

Cerdas Membaca Realitas

Feri Meledak dan Tenggelam di Selat Malaka, 150 Orang Berhasil Diselamatkan

Sebuah kapal feri penumpang disimulasikan meledak hingga tenggelam di perairan Selat Malaka, Rabu (21/10/2026).

DUMAI – Sebuah kapal feri penumpang disimulasikan meledak hingga tenggelam di perairan Selat Malaka, Rabu (21/10/2026). Sebanyak 150 penumpang dan awak kapal menjadi korban dalam skenario kecelakaan tersebut.

Beruntung, seluruh korban berhasil ditemukan dalam kondisi selamat melalui operasi pencarian dan pertolongan (SAR) gabungan Indonesia dan Malaysia.

Insiden itu merupakan bagian dari simulasi SAR Exercise 45/Malindo 2026 yang melibatkan Basarnas, otoritas penyelamatan Malaysia, serta sejumlah unsur maritim kedua negara.

Dalam skenario latihan, kapal MV Nusantara Express mengalami ledakan di ruang mesin sekitar pukul 08.00 GMT. Ledakan menyebabkan sistem kemudi dan kelistrikan lumpuh hingga kapal kehilangan kendali dan akhirnya tenggelam.

Informasi kecelakaan diterima Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Pekanbaru dari Maritime Rescue Sub Centre (MRSC) Johor Bahru pada pukul 09.48 GMT.

Lokasi kejadian disimulasikan berada pada koordinat 02°16’17,90″ LU dan 101°43’31,22″ BT di perairan Selat Malaka.

Merespons laporan tersebut, KN SAR 218 Dumai langsung dikerahkan dengan membawa 11 personel. Kapal bertolak pukul 10.00 GMT dan tiba di lokasi pencarian sepuluh menit kemudian.

Dalam simulasi penyelamatan, tim KN SAR 218 Dumai menemukan dua rakit penyelamat atau life craft berisi 60 orang. Seluruhnya dinyatakan selamat dan direncanakan dievakuasi menuju Dumai.

Sementara itu, kapal niaga MV Cosco Shipping Libra yang sedang berlayar dari Kolkata menuju Perth turut dilibatkan dalam skenario penyelamatan 15 korban.

KN SAR 218 Dumai kemudian melakukan manuver pencegatan atau intercept untuk proses pemindahan korban dari kapal tersebut.

Di sisi lain, unsur SAR Malaysia juga bergerak melakukan pencarian. Kapal KM Perwira dilaporkan menemukan lima rakit penyelamat yang membawa 50 orang.

Seluruh korban dalam skenario tersebut dievakuasi menuju wilayah Malaysia.

Adapun 25 korban lainnya ditemukan oleh kapal nelayan FV JHB 234. Proses evakuasi dilanjutkan menggunakan KM Langkawi menuju Pelabuhan Jeti Marina Port Dickson, Malaysia.

Dengan demikian, seluruh 150 penumpang dan awak kapal dalam simulasi berhasil ditemukan dalam keadaan selamat.

Operasi SAR kemudian diusulkan ditutup pada pukul 12.05 GMT setelah seluruh korban dipastikan telah ditemukan.

Latihan bersama ini sekaligus menguji kecepatan respons, kemampuan koordinasi, serta efektivitas komunikasi antarlembaga penyelamatan kedua negara dalam menghadapi kecelakaan laut berskala besar.

Melalui latihan tersebut, Basarnas menekankan pentingnya kesiapsiagaan personel dan kerja sama lintas negara, khususnya dalam penanganan keadaan darurat di jalur pelayaran internasional.

“Keselamatan korban menjadi prioritas utama dalam setiap operasi SAR. Melalui latihan bersama ini, koordinasi dan kesiapan seluruh unsur penyelamatan terus diperkuat agar mampu merespons keadaan darurat secara cepat dan tepat,” demikian penekanan pesan keselamatan Basarnas dalam kegiatan tersebut.

Selain melibatkan unsur penyelamat pemerintah, simulasi ini memperlihatkan pentingnya peran kapal niaga dan kapal nelayan dalam membantu pencarian korban kecelakaan laut.

Seluruh rangkaian penyelamatan tersebut merupakan skenario latihan SAR Exercise 45/Malindo 2026, bukan peristiwa kecelakaan kapal yang benar-benar terjadi.**

Ikuti WhatsApp Channel Pesisir Pos Untuk Update Berita Terbaru Setiap Hari