Siak Perkuat Patroli dan Deteksi Dini Hadapi Ancaman Karhutla
Siak – Pemerintah Kabupaten Siak memperketat upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seiring meningkatnya ancaman musim kemarau dan potensi fenomena Super El Nino. Langkah yang disiapkan antara lain patroli terpadu, deteksi dini titik panas (hotspot), hingga peningkatan kesiapsiagaan di wilayah rawan.
Wakil Bupati Siak Syamsurizal mengatakan, penanganan karhutla tidak bisa dilakukan oleh satu pihak. Menurutnya, potensi kebakaran dapat terjadi di berbagai kawasan, mulai dari hutan, perkebunan, hingga lahan milik masyarakat sehingga membutuhkan kolaborasi lintas sektor.
“Karhutla tidak mengenal batasan, dan tidak bisa dilakukan secara parsial. Yang diperlukan kerja sama, koordinasi, dan komunikasi yang baik,” ujarnya saat Apel Gelar Pasukan Siaga Karhutla di Halaman Kantor Bupati Siak, Kompleks Perkantoran Tanjung Agung, Selasa (30/6).
Syamsurizal juga mengingatkan masyarakat agar tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar, terutama di tengah cuaca kering yang dipicu musim kemarau atau Super El Nino.
“Kami minta masyarakat musim kering seperti ini, tidak membersihkan lahan dengan cara di bakar. Kewaspadaan bersama sangat penting agar potensi kebakaran dapat dicegah sejak dini dan tidak meluas. Untuk petugas Karhutla pastikan alat dan personel standbye bila terjadi kebakaran,” tegasnya.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Siak Novendra Kasmara mengatakan, strategi pencegahan saat ini difokuskan pada patroli di daerah rawan karhutla, penguatan sistem deteksi dini berbasis hotspot, serta memastikan personel dan sarana prasarana selalu dalam kondisi siap.
Menurutnya, BPBD juga menggencarkan patroli bersama perusahaan dan para pemangku kepentingan, disertai verifikasi langsung terhadap setiap titik panas yang terdeteksi agar tidak berkembang menjadi kebakaran.
“Kami akan terus melakukan patroli bersama perusahaan dan stakeholder, serta turun langsung ke lapangan untuk memastikan kesiapan sarpras sesuai dan setiap potensi titik api dapat dicegah sejak dini,” kata Novendra.
Ia menjelaskan, setiap hotspot yang muncul tidak langsung dinyatakan sebagai kebakaran. Tim gabungan akan segera melakukan pengecekan di lapangan bersama Masyarakat Peduli Api (MPA), pemerintah kampung, dan pihak kecamatan.
“Begitu kita mendapat data hotspot, kami langsung lakukan pengecekan di lapangan bersama MPA, pemerintah kampung, dan kecamatan agar tidak berkembang menjadi kebakaran,” ujarnya.
Data BPBD Kabupaten Siak hingga 29 Juni 2026 mencatat terdapat 254 titik hotspot dan 45 fire spot. Sebanyak 11 dari 14 kecamatan dipetakan sebagai wilayah rawan karhutla karena didominasi lahan gambut serta kawasan perkebunan milik masyarakat maupun perusahaan.
Perwakilan PT Arara Abadi, Lambok Pardede, mengatakan perusahaan telah melakukan patroli bersama BPBD, TNI, Polri, dan unsur terkait di wilayah Pusako serta Sungai Apit yang masuk kategori rawan. Perusahaan juga memperkuat sosialisasi kepada masyarakat serta koordinasi di tingkat desa dan kecamatan.
“Kami sudah melakukan patroli bersama BPBD, TNI, Polri, serta sosialisasi kepada masyarakat di wilayah rawan. Ke depan juga akan diperkuat dengan pos mitigasi agar penanganan bisa lebih cepat dilakukan ketika terjadi kebakaran,” ringkasnya.
Ikuti WhatsApp Channel Pesisir Pos Untuk Update Berita Terbaru Setiap Hari









