Pesisir Pos

Cerdas Membaca Realitas

Pelabuhan Kuala Asam Teluk Belitung Direhab Tahun Depan

MERANTI – Pelabuhan Umum Kuala Asam di Teluk Belitung, Kecamatan Merbau, Kabupaten Kepulauan Meranti, bakal direhabilitasi tahun depan. Pemerintah daerah menyiapkan anggaran sekitar Rp300 juta melalui APBD murni tahun anggaran 2027.

Rehabilitasi dilakukan karena sejumlah bagian pelabuhan mengalami kerusakan. Terutama pada bagian atap dan tiang besi yang mengalami korosi akibat faktor usia dan terus terpapar air laut.

Meski kondisinya demikian, pelabuhan tersebut masih digunakan masyarakat untuk aktivitas turun naik penumpang.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Kepulauan Meranti, Muhammad Fahri, melalui Kabid Prasarana dan Keselamatan Dishub, Hasrizal mengatakan, bagian-bagian yang sudah rusak mulai ditangani agar tidak membahayakan pengguna.

“Sejauh ini pelabuhan itu masih difungsikan. Kemarin dari UPT meminta agar bagian-bagian yang sudah rusak dibuka, dan saya juga menyarankan hal yang sama agar tidak mengganggu maupun membahayakan masyarakat yang berlalu lalang menggunakan jembatan pelabuhan,” ujar Hasrizal, Rabu (9/9) siang.

Dia mengatakan, bentuk rehabilitasi kemungkinan tidak banyak berubah dari kondisi pelabuhan saat ini. Namun, kualitas material menjadi perhatian agar konstruksi lebih tahan terhadap kondisi lingkungan sekitar.

Dishub, lanjut dia, menyarankan penggunaan besi jenis galvanis untuk tiang atap. Material tersebut dinilai lebih tahan terhadap korosi akibat paparan air laut.

“Untuk bentuk rehab mungkin masih sama, yakni atap meliputi tiang atap. Akan tetapi kita tekankan pada kualitas bahan. Kita menyarankan menggunakan besi Galvanis untuk tiang atapnya yang lebih tahan terhadap korosi air laut,” jelasnya.

Selain Pelabuhan Kuala Asam, pemerintah daerah juga merencanakan rehabilitasi Pelabuhan Kudap, Kecamatan Tasik Putripuyu dan Pelabuhan Tebun, Kecamatan Rangsang, pada 2027.

Kabid Prasarana dan Keselamatan Dishub Kepulauan Meranti, Hasrizal alias Aldo.

Di tengah keterbatasan anggaran, Dishub Meranti juga berencana melakukan pendataan ulang terhadap seluruh pelabuhan yang ada di daerah tersebut. Langkah itu dinilai penting untuk mendapatkan gambaran terbaru mengenai kondisi masing-masing pelabuhan.

“Nanti kita berencana mendata dengan mengunjungi langsung pelabuhan-pelabuhan yang ada di Kabupaten Kepulauan Meranti. Dengan begitu kita memiliki data yang valid untuk melihat langsung kondisi pelabuhan,” katanya.

Berdasarkan data terakhir, terdapat 96 pelabuhan di Kabupaten Kepulauan Meranti. Data tersebut nantinya diperbarui dengan melihat langsung kondisi fisik masing-masing pelabuhan, termasuk tingkat kerusakannya.

Hasil pendataan diharapkan dapat memetakan pelabuhan yang mengalami kerusakan, baik ringan, sedang hingga berat. Data itu sekaligus menjadi dasar pemerintah daerah dalam menentukan penanganan dan skala prioritas rehabilitasi maupun pembangunan pelabuhan baru.

Pengajuan penanganan juga dapat dilakukan kepada Pemerintah Provinsi Riau maupun pemerintah pusat.

Hasrizal mengakui, data yang selama ini digunakan sebagian masih merupakan data lama dan belum diperbarui. Padahal, kondisi pelabuhan dapat berubah dari tahun ke tahun.

“Memang sejauh ini kita masih menggunakan data yang sudah lama dan belum ada pembaruan. Padahal setiap tahun kondisi setiap pelabuhan pasti mengalami kerusakan yang berbeda-beda,” ungkapnya.

Menurut dia, peluang pengajuan pembangunan maupun rehabilitasi ke pemerintah pusat juga bergantung pada status pelabuhan dalam Rencana Induk Pelabuhan Nasional (RIPN).

“Kalau memang setiap pelabuhan itu masuk dalam RIPN, kita bisa mengajukan ke pusat. Namun kenyataannya tidak semua pelabuhan masuk dalam RIPN,” jelasnya.

Pernah Akan Ditutup Sementara

Kondisi Pelabuhan Umum Kuala Asam di Kelurahan Teluk Belitung sebelumnya juga menjadi perhatian Dishub. Pengguna telah diimbau untuk berhati-hati saat beraktivitas di kawasan pelabuhan.

Bahkan, tahun lalu sempat ada rencana untuk menutup sementara pelabuhan tersebut. Aktivitas penyeberangan rencananya dialihkan ke pelabuhan bongkar muat yang telah direhabilitasi.

Namun, rencana itu mendapat keluhan dari pengguna jasa. Ketika air laut surut, penumpang justru mengalami kesulitan untuk turun dari kapal di pelabuhan alternatif tersebut.

“Memang sebelumnya sudah kita imbau dan tahun lalu sempat akan ditutup sementara serta dipindahkan ke pelabuhan bongkar muat yang sudah direhab. Tetapi banyak keluhan dari pengguna jasa karena ketika air surut mereka susah turun,” katanya.

Hingga kini, Pelabuhan Umum Teluk Belitung masih tetap digunakan. Bagian-bagian yang dinilai membahayakan mulai dibongkar secara bertahap oleh pihak UPT.

Pelabuhan tersebut menjadi salah satu akses masyarakat yang bepergian dari Teluk Belitung menuju Selatpanjang maupun sebaliknya. Saat ini, sekitar tiga unit speedboat melayani aktivitas penumpang melalui pelabuhan tersebut. (nur)

Ikuti WhatsApp Channel Pesisir Pos Untuk Update Berita Terbaru Setiap Hari