Bupati Siak Tawarkan Solusi Karhutla ke Presiden Prabowo, Ini Usulannya
SIAK – Bupati Siak Dr. Afni Zulkifli menyampaikan sejumlah usulan untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kepada Presiden Prabowo Subianto. Usulan tersebut mencakup penguatan pencegahan di tingkat kampung, pemantauan tinggi muka air tanah (TMA) di kawasan gambut, hingga kebutuhan tenaga ahli pengelolaan tata air gambut di setiap kecamatan rawan.
Afni yang pernah menjadi Tenaga Ahli Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) itu memiliki pengalaman dalam penanganan persoalan karhutla. Dia juga menyebut dirinya dan warga Riau merupakan korban bencana asap yang berlangsung selama puluhan tahun.
“Anak saya juga korban Karhutla, terkena asma akut dampak asap secara berulang. Ini adalah bencana akibat perbuatan manusia dan seharusnya bisa dicegah,” ungkap Afni, Sabtu (3/10/2026).
Afni mengatakan, pertanyaan Presiden kepada para pakar saat dikumpulkan di Istana Negara sebelumnya menjadi perhatiannya. Dengan latar belakang riset disertasi S3 dan kajian yang selama ini dilakukannya mengenai karhutla, dia mencoba menjawab pertanyaan tersebut berdasarkan pengalaman di lapangan.
Pertanyaan pertama adalah apakah kawasan hutan bisa dibebaskan dari karhutla. Menurut Afni, hal itu bisa dilakukan, tetapi persoalan di bagian hulu harus lebih dulu diselesaikan. Salah satunya terkait kawasan hutan produksi yang masih banyak bersinggungan dengan lahan garapan masyarakat.
Menurut dia, kebijakan penanganan karhutla tidak cukup hanya dibuat di tingkat pemerintah pusat. Kebijakan tersebut harus diterjemahkan menjadi kerja kolaboratif hingga tingkat kampung dan desa.
“Jangan selesai hanya dengan kebijakan di ranah elite. Kebijakan itu harus lahir sampai ke tingkat kampung. Kami rakyat Siak ingin langit biru, dan itu sangat bisa diwujudkan jika masalah hulunya diselesaikan. Seluruh perusahaan yang berada di wilayah gambut pastikan segera temu gelang. Yang paling sulit menjaga gambut pada lahan masyarakat, karena itu jika di lahan berkonflik lebih baik segera diselesaikan melalui TORA ataupun Perhutanan Sosial,” ujarnya.
Pertanyaan kedua, apakah gambut di kawasan hutan bisa tidak terbakar. Afni menjawab bisa, dengan syarat kondisi gambut tetap basah.
Salah satu caranya, kata dia, dengan memperbanyak alat pemantau tinggi muka air tanah (TMA). Alat tersebut dapat digunakan untuk memantau kondisi gambut secara berkala sehingga potensi kekeringan bisa diketahui lebih awal.
Afni menjelaskan, satu alat pemantau TMA memiliki radius pemantauan sekitar 25 kilometer. Dengan luas kawasan hutan Siak yang disebutnya sekitar 400 ribu hektare, dibutuhkan sekitar 167 hingga 169 titik pemantauan agar pemantauan lebih merata.
Ikuti WhatsApp Channel Pesisir Pos Untuk Update Berita Terbaru Setiap Hari









