Abrasi Pulau Rangsang Kian Parah, Sopandi Desak BRIN Perluas Penelitian hingga Selat Air Hitam
MERANTI – Anggota DPRD Komisi II, Sopandi, S.Sos., mendesak Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperluas penelitian abrasi di Kabupaten Kepulauan Meranti. Ia meminta kajian tidak hanya berfokus pada kawasan Selat Malaka, tetapi juga mencakup Selat Air Hitam, terutama pesisir Pulau Rangsang dan Tebing Tinggi.
Menurut Sopandi, abrasi menjadi persoalan serius yang membutuhkan penanganan tepat karena berdampak terhadap kawasan pesisir dan kehidupan masyarakat. Pulau Rangsang, kata dia, juga memiliki peran penting dalam mendukung sumber pangan di Kabupaten Kepulauan Meranti sehingga perlindungan wilayah tersebut perlu menjadi perhatian bersama.
Hal itu disampaikannya dalam pembahasan penanganan abrasi bersama Pemkab Kepulauan Meranti dan tim BRIN di Ruang Rapat Melati, Kantor Bupati Kepulauan Meranti, Senin (26/10/2026).
Sopandi mengungkapkan, upaya penanganan abrasi yang pernah dilakukan pada 2017 menggunakan sistem cincin sumur belum memberikan hasil sesuai harapan. Karena itu, ia mendorong kajian terhadap teknologi lain, termasuk struktur pemecah gelombang atau *breakwater*, untuk mengetahui efektivitasnya dalam melindungi pantai.
“Saya mengharapkan tidak hanya abrasi yang diteliti di Selat Malaka, kami juga meminta agar dilakukan penelitian di Selat Air Hitam, seperti di pesisir Pulau Rangsang dan Tebing Tinggi ini,” ujar Sopandi.
Ia berharap permintaan tersebut menjadi pertimbangan BRIN dalam memperluas cakupan survei dan penelitian. Dengan kajian yang menyeluruh, solusi yang dirumuskan diharapkan sesuai dengan kondisi masing-masing kawasan pesisir.
Sementara itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Kepulauan Meranti, Sudandri, menilai pemanfaatan teknologi baru diperlukan untuk mempercepat penanganan abrasi. Terlebih, kemampuan keuangan daerah masih terbatas untuk menjangkau seluruh wilayah yang membutuhkan perlindungan pantai.
Menurutnya, hasil kajian dan pembahasan bersama BRIN perlu ditindaklanjuti agar dapat diusulkan kepada pemerintah pusat melalui program yang sesuai.
“Mudah-mudahan dengan pemahaman kita seperti ini, kita bisa sama-sama memberikan masukan dalam memanfaatkan teknologi ini,” ujar Sudandri.
Dalam pertemuan tersebut, tim BRIN memaparkan potensi pemanfaatan material geopolimer untuk mendukung pembangunan struktur pelindung pantai. Material ini berpotensi membantu menstabilkan sedimen dan mengurangi energi gelombang yang mencapai garis pantai.
BRIN juga menyampaikan bahwa struktur pelindung pantai dapat dikombinasikan dengan penanaman mangrove untuk memperkuat perlindungan pesisir sekaligus menjaga ekosistem.
“Hal tersebut bisa menjadi kombinasi yang baik bagi tanaman mangrove, agar mangrovenya lebih terlindungi dan akarnya dapat tumbuh dengan baik,” ujar anggota BRIN dalam rapat tersebut.**
Ikuti WhatsApp Channel Pesisir Pos Untuk Update Berita Terbaru Setiap Hari









