Abrasi Gerus Pulau Rangsang, Eco-Breakwater Berbasis Limbah PLTU Jadi Harapan Baru Meranti
MERANTI – Ancaman abrasi yang terus menggerus pesisir Pulau Rangsang, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau, mendorong pemerintah daerah mencari solusi inovatif. Teknologi eco-breakwater berbasis geopolimer dengan memanfaatkan limbah pembakaran PLTU kini menjadi salah satu alternatif yang tengah dikaji untuk melindungi kawasan pesisir.
Inovasi tersebut dibahas dalam pertemuan Tim Survei Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Riau bersama Pemkab Kepulauan Meranti di Ruang Melati Kantor Bupati, Senin (26/10/2026). Pertemuan itu membahas pengumpulan data abrasi di Kecamatan Rangsang Pesisir sekaligus menjajaki penerapan teknologi perlindungan pantai yang lebih efektif dan berkelanjutan.
Sekda Kepulauan Meranti H. Sudandri Jauzah, S.H., hadir mewakili Bupati AKBP (Purn.) H. Asmar. Turut hadir Anggota Komisi II DPRD Meranti Sopandi, S.Sos., serta sejumlah perangkat daerah terkait, BPBD, PUPR, Bappedalitbang, Dinas Perkimtan dan Lingkungan Hidup, Bagian Pengelolaan Perbatasan, dan Camat Rangsang Pesisir.
Dalam pertemuan tersebut, Dr. Lukman Hakim Nasution, S.T., M.T., memaparkan inovasi beton serat berbasis geopolimer yang dirancang untuk meredam energi gelombang sekaligus memperkuat kawasan pesisir dan daerah aliran sungai.
Menurut Lukman, teknologi *eco-breakwater* tidak sekadar berfungsi sebagai penghalang gelombang, tetapi dirancang untuk mengurangi energi benturan sebelum mencapai kawasan yang dilindungi.
“Jadi kita tidak hanya membuat dinding. Sistemnya dirancang untuk meredam gaya impact gelombang terhadap struktur,” kata Lukman.
Berdasarkan simulasi, konfigurasi material tersebut berpotensi meredam sekitar 50 hingga 70 persen gaya benturan gelombang. Meski demikian, angka itu masih berupa hasil simulasi dan membutuhkan pengujian serta kajian lanjutan sebelum diterapkan secara luas.
Material konstruksi ini memanfaatkan fly ash dan bottom ash atau limbah pembakaran PLTU yang diolah melalui sistem geopolimer dengan aktivator tertentu. Selain dirancang cepat mengeras, material tersebut juga dikembangkan agar tahan terhadap air dan kadar garam, dengan ukuran serta kekuatan yang dapat disesuaikan berdasarkan kondisi lokasi.
Tim BRIDA kini menyiapkan sekitar 100 batang material berukuran panjang dua meter dan berdiameter sekitar enam inci untuk mendukung perlindungan kawasan mangrove. Sistem pemasangannya dirancang modular sehingga dapat disesuaikan dengan karakteristik tanah dan kedalaman lumpur.
“Kalau kedalaman lumpurnya berbeda, material ini bisa dibuat dengan sistem sambungan. Jadi tidak harus dibuat dalam satu ukuran yang sangat panjang,” jelasnya.
Ikuti WhatsApp Channel Pesisir Pos Untuk Update Berita Terbaru Setiap Hari









