Polwan Polda Riau Turun Hadapi Karhutla, Dari Padamkan Api hingga Dampingi Warga Terdampak
PEKANBARU – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Riau tidak hanya mengandalkan personel yang bertugas memadamkan api. Di tengah kondisi tersebut, Polisi Wanita (Polwan) jajaran Polda Riau ikut diterjunkan untuk memperkuat penanganan sekaligus membantu masyarakat yang terdampak.
Di Kabupaten Rokan Hilir, sejumlah Polwan Polres Rokan Hilir turun langsung ke kawasan Karhutla di Napangga Pujud, Kecamatan Tanjung Medan. Mereka ikut membantu personel di lapangan melakukan pemadaman agar kobaran api tidak semakin meluas.
Kehadiran Polwan di lokasi menjadi bagian dari upaya memperkuat penanganan kebakaran. Medan yang sulit dan potensi api kembali muncul membuat proses pemadaman tidak berhenti ketika kobaran terlihat mengecil. Pendinginan juga dilakukan untuk mencegah munculnya kembali titik api.
Sementara itu, penanganan dengan pendekatan berbeda dilakukan Polwan Polres Pelalawan di Kecamatan Kerumutan. Sebanyak 26 personel turun menemui masyarakat yang terdampak Karhutla.
Selain membagikan masker, mereka memberikan trauma healing, motivasi dan dukungan psikologis kepada warga. Langkah ini dilakukan karena dampak kebakaran tidak hanya dirasakan melalui asap dan terganggunya aktivitas, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi psikologis masyarakat yang berada dekat dengan lokasi kebakaran.
Dua kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa penanganan Karhutla memiliki tantangan yang berbeda di setiap wilayah. Ketika personel di Rokan Hilir berhadapan langsung dengan api, Polwan di Pelalawan berhadapan dengan dampak yang dirasakan masyarakat.
Kabid Humas Polda Riau Kombes Akmadi mengatakan, keterlibatan Polwan tersebut menunjukkan bahwa penanganan Karhutla membutuhkan kerja bersama dan peran dari seluruh unsur.
“Di Rokan Hilir, Polwan turun langsung membantu pemadaman. Di Kerumutan, Pelalawan, Polwan hadir mendampingi masyarakat melalui trauma healing dan pembagian masker. Perannya berbeda, tetapi tujuannya sama, yaitu hadir sesuai kebutuhan masyarakat dan kondisi di lapangan,” kata Akmadi, Minggu (30/8/2026).
Menurutnya, persoalan Karhutla tidak dapat diukur hanya dari luas lahan yang terbakar atau seberapa cepat api dipadamkan. Masyarakat yang berada di sekitar lokasi juga menjadi bagian penting yang harus mendapatkan perhatian.
“Ada masyarakat yang harus kita lindungi dan dampingi. Karena itu, selain pemadaman dan pendinginan, pelayanan kepada masyarakat terdampak juga menjadi bagian penting dari penanganan yang dilakukan,” ujarnya.
Akmadi menambahkan, pola penanganan seperti ini diperlukan agar upaya menghadapi Karhutla tidak hanya berorientasi pada pengendalian api, tetapi juga memastikan warga yang terdampak memperoleh perlindungan dan pendampingan.
Di tengah rangkaian persiapan Hari Jadi ke-78 Polwan RI, aktivitas tersebut menunjukkan bagaimana personel Polwan menjalankan tugas di lapangan. Sebagian berada di lokasi kebakaran, sementara lainnya mendatangi warga yang membutuhkan bantuan.
“Momentum Hari Jadi Polwan kami maknai dengan pengabdian. Ada Polwan yang berdiri bersama personel lainnya menghadapi api di lapangan, ada pula yang hadir mendampingi masyarakat terdampak. Semangatnya sederhana, Polwan hadir ketika masyarakat membutuhkan,” kata Akmadi.**
Ikuti WhatsApp Channel Pesisir Pos Untuk Update Berita Terbaru Setiap Hari









