Ekspedisi Merah Putih Presisi Polda Riau Perkuat Kolaborasi di Pulau Terluar Meranti
MERANTI – Ekspedisi Merah Putih Presisi (EMPP) Polda Riau menyasar wilayah pesisir Kabupaten Kepulauan Meranti dengan membawa pesan tentang kepedulian lingkungan, keamanan serta penguatan kolaborasi bersama masyarakat.
Kegiatan yang berlangsung di Pantai Motong, Desa Permai, Kecamatan Rangsang Barat, Minggu (16/8/2026), menjadi bagian dari rangkaian EMPP dalam menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
Berbeda dari kegiatan yang hanya berorientasi seremonial, EMPP di Meranti dikemas dengan konsep green policing melalui pendekatan lingkungan, ekowisata, pemberdayaan masyarakat serta pelibatan komunitas dan penggiat media sosial.
Wakapolres Kepulauan Meranti Kompol Detis Mayer Silitonga mengatakan EMPP merupakan gagasan Kapolda Riau yang dilaksanakan jajaran kepolisian di berbagai wilayah. Di Meranti, kegiatan diarahkan untuk membangun kepedulian bersama terhadap kawasan pesisir dan pulau terluar.
“Kalau kami bekerja sendiri, tidak akan bisa. Kalau kami bekerja berdua juga tidak akan bisa. Bekerja bertiga juga tidak akan bisa. Tapi kalau bekerja bersama-sama, kita bisa menjaga kelestarian alam,” kata Detis.
Menurutnya, keterlibatan komunitas dan penggiat media sosial menjadi bagian penting dalam pola pendekatan kepolisian saat ini. Mereka dapat membantu menyampaikan pesan mengenai kamtibmas, lingkungan dan berbagai persoalan masyarakat secara lebih luas.
Ketua Komunitas Film Daerah (Kopiah) Meranti, M Syahren alias Bang Bero, menilai EMPP memberikan ruang bagi masyarakat dan komunitas untuk ikut mengambil bagian dalam menjaga daerah.
Ia menyebut kehadiran Polri di wilayah terluar bukan hanya soal keamanan, tetapi juga dapat menjadi penggerak kolaborasi untuk mengangkat potensi daerah dan menyuarakan persoalan masyarakat.
“Bagi saya anak Meranti, kegiatan ini merupakan bentuk pengabdian nyata institusi Polri terhadap wilayah terluar Indonesia. Ke depan, kami siap membantu Polres tanpa syarat apapun,” ujar M Syahren.
Menurutnya, komunitas dan penggiat media sosial dapat membantu memperlihatkan kondisi Meranti kepada masyarakat yang lebih luas, termasuk persoalan abrasi yang masih menjadi ancaman bagi sejumlah kawasan pesisir.
Sementara itu, Kepala Desa Permai Azman mengatakan kehadiran EMPP di desanya memberikan perhatian tersendiri bagi masyarakat, terutama karena wilayah tersebut berada di kawasan terluar yang berhadapan langsung dengan Selat Melaka.
Ia berharap kegiatan tersebut tidak berhenti pada momentum peringatan kemerdekaan, tetapi dapat menjadi pintu masuk untuk memperkuat perhatian terhadap kebutuhan masyarakat pesisir.
“Setiap tahun kami mendapat kado dari Malaysia yang sangat menyedihkan. Kado yang dikirim pada akhir tahun berupa gelombang besar dan angin kencang, sehingga mengikis bibir pantai kami sekitar 15 sampai 20 meter per tahun,” ungkap Azman.
Azman berharap pemerintah bersama seluruh pihak dapat mencari solusi terhadap persoalan abrasi, termasuk melalui pembangunan batu pemecah ombak atau bronjong.
Dalam pelaksanaannya, EMPP di Pantai Motong juga diarahkan untuk memperkenalkan konsep ekowisata pulau terluar. Potensi wisata, lingkungan dan budaya lokal dipadukan agar masyarakat memiliki ruang untuk mengembangkan aktivitas ekonomi tanpa mengabaikan kelestarian alam.
Kegiatan tersebut sekaligus memperkuat pesan bahwa wilayah pulau terluar membutuhkan kehadiran dan kolaborasi banyak pihak. Polri, pemerintah daerah, komunitas, penggiat media sosial dan masyarakat diharapkan dapat bergerak bersama menjaga lingkungan sekaligus mengangkat potensi Kepulauan Meranti.
Melalui Ekspedisi Merah Putih Presisi, pesan kemerdekaan tidak hanya disampaikan melalui simbol dan seremoni, tetapi diterjemahkan dalam aksi bersama di tengah masyarakat, khususnya di kawasan pesisir yang memiliki potensi sekaligus menghadapi tantangan lingkungan.**
Ikuti WhatsApp Channel Pesisir Pos Untuk Update Berita Terbaru Setiap Hari









