Polri Ingatkan Orang Tua, Jangan Biarkan Anak Berada di Tengah Aksi Berisiko Ricuh
PEKANBARU – Situasi aksi penyampaian aspirasi yang berpotensi diwarnai kericuhan menjadi perhatian Kepolisian. Di tengah dinamika tersebut, Polri mengingatkan keluarga agar tidak lengah terhadap keberadaan anak-anak.
Orang tua diminta lebih aktif mengetahui aktivitas anak, termasuk memastikan mereka tidak ikut berada di lokasi aksi yang berpotensi berubah menjadi situasi tidak kondusif. Langkah tersebut dinilai penting untuk mencegah anak terpapar risiko yang sebenarnya belum tentu mereka pahami.
Kapolda Riau Irjen. Pol. Dr. Herry Heryawan, S.I.K., M.H., M.Hum, melalui Kabid Humas Polda Riau Kombes Pol. Akmadi, S.I.K. mengatakan, keluarga menjadi salah satu benteng utama dalam melindungi anak dari situasi yang dapat membahayakan keselamatan.
“Kami mengimbau para orang tua untuk memastikan anak-anak tidak berada di lokasi aksi yang berpotensi terjadi kericuhan. Keselamatan mereka adalah tanggung jawab kita bersama. Untuk itu, para orang tua diharapkan dapat membimbing dan mengedukasi anak-anaknya agar memahami risiko serta mengutamakan kepentingan masa depan dan keselamatan mereka,” ujar Kombes Pol. Akmadi, S.I.K. dalam keterangannya resminya.
Menurut Akmadi, hak masyarakat untuk menyampaikan aspirasi tetap dihormati. Namun, keberadaan anak-anak dalam situasi yang berpotensi ricuh membutuhkan perhatian khusus karena mereka memiliki tingkat pemahaman dan kemampuan menghadapi risiko yang berbeda dengan orang dewasa.
Karena itu, edukasi dari keluarga tidak cukup hanya berupa larangan. Anak perlu diberi penjelasan mengenai alasan di balik setiap arahan, terutama ketika kondisi di lapangan dapat berubah dengan cepat.
“Anak-anak kita tentu memiliki masa depan yang panjang. Jangan sampai mereka berada di tempat atau situasi yang berpotensi membahayakan diri sendiri. Karena itu, peran orang tua untuk memberikan edukasi, arahan dan pengawasan sangat penting,” jelasnya.
Polri juga mendorong orang tua untuk tidak mengabaikan komunikasi sehari-hari dengan anak. Mengetahui ke mana anak pergi, dengan siapa mereka beraktivitas, serta memahami lingkungan pergaulan menjadi bagian penting dari upaya pencegahan.
Terlebih ketika beredar informasi mengenai rencana aksi atau kegiatan penyampaian aspirasi di suatu wilayah. Orang tua diharapkan tidak menunggu sampai terjadi persoalan untuk kemudian memberikan pengawasan.
“Kami mengajak para orang tua untuk terus berkomunikasi dengan anak-anaknya, memberikan pemahaman bahwa menyampaikan pendapat dapat dilakukan dengan cara yang baik dan sesuai ketentuan. Yang paling utama adalah jangan sampai mereka menjadi korban atau berada dalam situasi yang dapat membahayakan keselamatan,” tuturnya.
Akmadi menegaskan, perlindungan terhadap anak bukan semata-mata menjadi tugas kepolisian. Lingkungan keluarga, masyarakat hingga berbagai pihak lainnya memiliki peran yang sama dalam memastikan anak tidak terseret ke dalam situasi yang dapat membahayakan dirinya.
Pendekatan melalui komunikasi dan edukasi dinilai penting agar anak memahami bahwa keberanian menyampaikan pendapat harus tetap dibarengi dengan kesadaran terhadap keselamatan dan konsekuensi dari setiap tindakan.
“Keselamatan anak adalah tanggung jawab kita bersama. Mari kita jaga anak-anak kita, kita bimbing dan kita edukasi untuk kepentingan masa depan mereka. Jangan sampai keinginan untuk ikut-ikutan justru membawa mereka pada situasi yang merugikan,” pungkasnya.**
Ikuti WhatsApp Channel Pesisir Pos Untuk Update Berita Terbaru Setiap Hari









