Dari Lahan Gambut hingga Perbatasan, Meranti Perkuat Sinergi Bersama Mabes TNI
MERANTI – Pengelolaan kawasan hutan dan penguatan pertahanan di wilayah perbatasan menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti. Persoalan tersebut dibahas Bupati Kepulauan Meranti AKBP (Purn.) H. Asmar bersama Tim Markas Besar (Mabes) TNI dalam pertemuan di ruang kerja bupati, Kamis (17/9/2026).
Selain membahas pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), pertemuan itu menyoroti kendala penanganan kebakaran di wilayah kepulauan serta rencana pembangunan pos terpadu di Pulau Rangsang.
Asmar mengungkapkan, kondisi geografis Meranti menjadi tantangan tersendiri dalam mengerahkan personel dan peralatan penanganan karhutla. Sejumlah lokasi hanya dapat dijangkau melalui jalur laut sehingga mobilisasi membutuhkan waktu lebih lama.
“Untuk penanganan segala macam kejadian kebakaran itu agak lamban kita dari kabupaten karena kita menggunakan angkutan laut,” kata Asmar.
Menurut dia, upaya pencegahan perlu diperkuat dengan memberikan ruang pengelolaan lahan secara legal kepada masyarakat. Lahan yang selama ini belum termanfaatkan, khususnya di kawasan hutan, dinilai berpotensi lebih terawat apabila dikelola secara produktif dan diawasi.
“Kalau masyarakat diberikan ruang untuk mengelola secara legal, lahan tersebut bisa dimanfaatkan sekaligus diawasi. Misalnya ditanami kelapa, singkong atau tanaman produktif lainnya,” ujarnya.
Asmar mencontohkan program peremajaan kelapa seluas sekitar 3.500 hektare. Namun, hanya 2.000 hektare yang dapat dikelola, sedangkan 1.500 hektare lainnya masih berada di kawasan hutan.
“Programnya 3.500 hektare, tetapi yang bisa dikelola hanya sekitar 2.000 hektare. Sekitar 1.500 hektare tidak bisa karena masuk kawasan hutan,” katanya.
Di sisi lain, pemerintah daerah mendorong penguatan pengamanan Pulau Rangsang yang berada di wilayah strategis dan menjadi jalur lalu lintas kapal. Rencana pembangunan pos terpadu yang melibatkan TNI, Polri, serta instansi terkait disiapkan sebagai bagian dari penguatan keamanan kawasan.
“Rencananya di sana akan ada pos terpadu. Ada unsur Angkatan Darat, Angkatan Laut, kepolisian dan instansi terkait lainnya,” jelas Asmar.
Sementara itu, Laksamana TNI Dr. Imam Hidayat, Sp.S., mengatakan kunjungan Mabes TNI juga mencakup peninjauan sejumlah pos di Merbau dan wilayah Meranti. Tim turut melihat kesiapan personel serta berinteraksi dengan pemerintah dan masyarakat.
“Kami dari Mabes TNI sangat berterima kasih atas sambutan dan kesiapan yang diberikan,” ujar Imam.
Imam menekankan, keberhasilan penanganan karhutla tidak cukup diukur dari kemampuan memadamkan api. Pencegahan dan deteksi dini menjadi kunci, terutama di kawasan gambut yang memungkinkan api bertahan di dalam tanah dan kembali muncul setelah permukaan terlihat padam.
Ia juga mengapresiasi latihan pemadaman yang dilakukan secara rutin oleh jajaran terkait di Meranti.
“Alhamdulillah memang sesuai dengan yang kita harapkan. Saya lihat mereka setiap hari melakukan latihan-latihan pemadaman. Alhamdulillah memang sesuai SOP,” katanya.
Selain mengevaluasi penyebab munculnya kembali api di lahan gambut, Mabes TNI turut mengkaji kebutuhan penguatan pertahanan darat, laut, dan udara sesuai karakteristik wilayah kepulauan.
Setelah menjalankan tugas selama 28 hari, Satgas Mabes TNI mengakhiri penugasan di Kepulauan Meranti. Asmar berharap kerja sama yang telah terjalin terus berlanjut, terutama dalam memperkuat pencegahan karhutla dan menjaga keamanan wilayah perbatasan.**
Ikuti WhatsApp Channel Pesisir Pos Untuk Update Berita Terbaru Setiap Hari









